TUHAN IJINKAN AKU JADI PELACUR

PESAN JABLAY 24 JAM LANGSUNG KONTAK NOVI 08561650592

Selasa, 26 Januari 2010

TUHAN IJINKAN AKU JADI PELACUR, Kisah Nyata Mantan Aktivis Islam Garis Keras

Kisah dalam buku ini didasarkan pada pengalaman nyata penulisnya, Mataharitimoer, seorang mantan aktivis NII (Negara Islam Indonesia) yang “bertobat”. Selama 10 tahun ia hidup di “bawah-tanah”, berkelana dari kota ke kota, demi mewujudkan cita-cita mendirikan negara yang berdasarkan syariat Islam di Indonesia, dengan cara-cara yang kurang lazim dan asosial.

Penulis mewujudkan dirinya sebagai seorang remaja beranjak dewasa bernama Royan. Ia menyimpan dendam pada Tuhan dan tentara, yang merenggut nyawa bapaknya pada Peristiwa Tanjung Priok, 1984. Pada tahun 1988, ia bergabung dengan pergerakan Islam underground, yang ingin mendirikan Negara Islam dan menggulingkan rezim yang dianggap thagut alias setan. Muslim yang tidak mengikrarkan syahadatnya kembali, dituding kafir.

Sejak bergabung dalam pergerakan, ia hidup bergerilya, berkelit dari incaran, gerebekan, dan penculikan intelijen. Di tengah-tengah perjuangan antara hidup dan mati, ia justru menyaksikan banyak kezaliman di tubuh pergerakan. Ia tak sepakat dengan sikap ketaatan jamaah yang berlebihan kepada pemimpinnya. Ia menentang larangan pemimpin bagi para kadernya untuk jatuh cinta dan memilih pasangan mereka sendiri. Kalaupun menikah, itu harus dengan persetujuan atasan, dan wajib membayar infak yang jumlahnya sering tak sanggup ditanggung oleh para kadernya.

Royan pun tak setuju jika jamaah “dipaksa” mencari infak dengan berbagai cara asal disetor 100% kepada pemimpin pergerakan. Ia menentang sikap jamaah yang suka menganggap harta yang dimiliki masyarakat boleh dirampas karena alasan fa’i (rampasan perang). Pergerakan menganggap, masyarakat negeri ini masih hidup dalam kekafiran, sehingga merampok harta mereka adalah tindakan halal. Abu Qital dan Abu Shoffan serta Imam, para atasannya, mencoba membungkamnya dengan fitnah, teror, penculikan, bahkan uang sogokan. Pengalaman-pengalaman traumatis itu membuat Royan “tersadar” dan segera keluar dari pergerakan yang selama ini dianggapnya sebagai kebenaran tunggal. Ia berjalan sendiri dalam kesunyian, dan mulai mencari makna sejati jihad dan Kebenaran …

TESTIMONI

Novel ini menarik karena dua alasan. Pertama, alur ceritanya diangkat dari pengalaman aktual dalam sebuah dunia yang penuh misteri, ganas, eksklusif, mengatasnamakan Tuhan—sebuah perbuatan yang berlawanan dengan seluruh ruh Alquran tentang cara damai dan beradab dalam mencapai sebuah tujuan. Kedua, menempuh jalan kekerasan dalam pengalaman politik Indonesia ujung-ujungnya hanya satu: malapetaka.
—Ahmad Syafii Maarif, Sesepuh Muhammadiyah

Makna jihad yang sering dipahami dengan salah kaprah oleh banyak orang dibongkar dengan unik oleh Mataharitimoer .
—Enison Sinaro, Sutradara Film Bom Bali Long Road To Heaven

Buku ini tidak saja mengisahkan perjalanan hidup namun juga pergulatan mencari makna kehidupan yang berkarakter diametral penuh konfrontasi dan jamak dari penulisnya. Saya pikir ia telah menemukan dirinya kembali walaupun tidak pernah sama lagi dengan dirinya yang dulu.
—Nurul Arifin, Artis Indonesia

Sangat bagus! Mengupas ijtihad seorang anak manusia dalam sebuah misi jihad, namun pada akhirnya ia sendiri meragukan jalan yang ditempuhnya. Baru kali ini ada sebuah buku yang memaparkan kehidupan seorang manusia yang sangat tersembunyi.
—Alchaidar, Mantan Aktivis NII

Novel ini membuka tabir sebuah gerakan yang mengklaim kebenaran hanya ada di pihaknya. Sungguh menggugah!
—Herry Muhammad, GATRA

Mataharitimoer hanyalah sebuah noktah di gunung es: betapa ketidakadilan global kuasa membangkitkan kerikil terpendam yang selanjutnya menjadi batu sandungan global.
—Prof. Dr. Ahmad Mubarok, M.A., Guru Besar Psikologi Islam

Menukik tajam! Layak dibaca oleh para pemerhati kebijakan politik nasional dan internasional, terkait isu jihad dan terorisme.
—Zaki Amrullah, Radio Berita Jerman Deutsche Welle

Penculikan ternyata tidak hanya dilakukan oleh Densus 88, tapi juga oleh kelompok yang bersaing dalam satu tubuh gerakan yang awalnya sama. Apakah itu yang dimaksud “Jihad Terlarang”? Membaca buku ini akan menambah wawasan bagaimana serunya pergolakan dalam sebuah harakah (gerakan).
—Fauzan Al-Anshari, Juru Bicara Majelis Mujahidin Indonesia

Novel yang untuk pertama kalinya mengilustrasikan Islam underground dengan jujur. Latar belakang si penulis yang pernah bersentuhan langsung dengan gerakan bawah-tanah membuat kisah di dalamnya begitu hidup dan nyata. Sebuah referensi penting untuk memahami satu dimensi dari Gerakan Islam di Indonesia.
—Siska Widyawati, JIJI Press

Akhirnya, ada juga orang yang berani menulis novel tentang pergerakan Islam garis keras dalam rangka mendirikan Negara Islam. Selama ini, mereka yang terlibat hanya berani mengungkapkan bisik-bisik belaka. Sangat inspiratif sekaligus mengejutkan.
—Wahyudin Fahmi, Koran Tempo

Realitas kemelaratan dan ketidakadilan cenderung menumbuhkan perilaku kekerasan. Novel ini sangat inspiring bagi kita untuk segera merumuskan makna “jihad” yang halal tapi konstruktif, tanpa diracuni oleh pemahaman Barat tentang terorisme dan jihad.
—Faisal Haq, Majalah Gontor

Gaya penulisan dan isi novel membuatnya patut disandingkan dengan Atheis-nya Achdiat Karta Mihardja …. Sungguh dahsyat! Sayang kalau buku ini hanya dinikmati kovernya saja ….
—Herawatmo, Rakyat Merdeka Online

Karya-karya Mataharitimoer telah dibaca oleh banyak penggemarnya. Ia telah memberikan inspirasi dan motivasi pada jutaan orang lainnya.
—Yudhi Aprianto, sarikata.com

Menyingkap rahasia gerakan Islam militan di Indoensia, yang selama ini masih terkubur dalam ribuan kabar burung yang simpang siur.
—Ade Tri Marganingsih, Matabaca.

sumber : http://www.nii-crisis-center.com/jihad-terlarang-novel-mantan-nii